Sabtu, 06 November 2010

Pinang (Areca catechu L.)

Pinang

(Areca catechu L.)
Sinonim :
= A. hortensis, Lour.
Familia :
Arecaceae
Uraian :
Pinang umumnya ditanam di pekarangan, di taman-taman atau dibudidayakan, kadang tumbuh liar di tepi sungai dan tempat-tempat lain, dapat ditemukan dari 1-1.400 m dpl. Pohon berbatang langsing, tumbuh tegak, tinggi 10-30 m, diameter 15-20 cm, tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. Daun majemuk menyirip tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm, tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1-1,8 m, anak daun mempunyai panjang 85 cm, lebar 5 cm, dengan ujung sobek dan bergigi. Tongkol bunga dengan seludang panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun, panjang sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap. Ada 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning, benang sari 6. Bunga betina panjang sekitar 1,5 cm, hijau, bakal buah beruang satu. Buahnya buah buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5-7 cm, dinding buah berserabut, bila masak warnanya merah oranye. Biji satu, bentuknya seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Umbutnya dimakan sebagai lalab atau acar, sedang buahnya merupakan salah satu ramuan untuk makan sirih, dan merupakan tanaman penghasil zat samak. Pelepah daun yang bahasa Sundanya disebut upih, digunakan untuk pembungkus makanan, bahan campuran untuk pembuatan topi, dsbnya. Perbanyakan dengan biji. 

Nama Lokal :
Jambe, penang, wohan (Jawa). pineng, pineung, pinang,; Batang mayang, b. bongkah, b. pinang, pining, boni (Sumtra); Gahat, gehat, kahat, taan, pinang (Kalimanantan). alosi; mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon.(Sul.); Bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm (Maluku). bua, winu,; 
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Cacingan, Perut kembung, Luka, Batuk berdahak, Diare, Kudis; Koreng, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, difteri; Tidak nafsu makan, Sembelit, Sakit pinggang, gigi dan gusi,;
Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIPAKAI: Biji, daun, sabut.

KEGUNAAN:
Biji (Binglang):
- Cacingan: taeniasis, fasciolopsiasis.
- Perut kembung akibat gangguan pencernaan.
- Bengkak karena retensi cairan (edema).
- Rasa penuh di dada.
- Luka.
- Batuk berdahak.
- Diare.
- Terlambat haid, Keputihan.
- Beri-beri, edema. Malaria.
- Memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma.

Daun:
- Tidak napsu makan.
- Sakit pinggang (lumbago).

Sabut:
- Gangguan pencernaan (dyspepsia).
- Sembelit.
- Edema dan beri-beri.

PEMAKAIAN:
Untuk minum: 5-10 g biji kering atau 5-10 g sabut, rebus.
Pemakaian luar : Biji secukupnya direbus, airnya untuk mencuci luka dan infeksi kulit lainnya.

CARA PEMAKAIAN:
1. Cacingan:
    30 g serbuk biji pinang direbus dengan 2 gelas air, didihkan
    perlahan-lahan seiama 1 jam. Setelah dingin disaring, minum
    sekaligus sebelum makan pagi.

2. Luka: Biji ditumbuk halus, untuk dipakai pada luka.

3. Kudis:
    Biji pinang digiling halus, tambahkan sedikit air kapur sirih sampai
    menjadi adonan seperti bubur. Dipakai untuk memoles bagian tubuh
    yang kudis.

4. Koreng:
    Pinang, gambir, kapur sirih masing-masing sebesar telur cecak,
    tembakau sebesar ibu jari dan 1 lembar daun sirih segar.
    Bahan-bahan tersebut dicampur ialu digiling halus. Lumurkan pada
    koreng yang telah dibersihkan.

5. Disentri:
    Buah pinang yang warnanya kuning muda dicuci lalu direndam dalam
    1 gelas air selama beberapa jam. Minum air rendaman pinang.

6. Membersihkan dan memperkuat gigi dan gusi:
    Biji pinang diiris tipis-tipis. Kunyah setiap hari selama beberapa
    menit, lalu ampasnya dibuang.

7. Sakit pinggang:
    Daun secukupnya dicuci bersih, lalu digiling halus. Tambahkan
    minyak kelapa secukupnya, panaskan sebentar di atas api. Hangat-
    hangat dipakai untuk mengompres bagian pinggang yang sakit.

8. Difteri:
    1 butir biji pinang kering digiling halus, seduh dengan 3/4 cangkir
    air panas dan 1 sendok makan madu. Setelah dingin dipakai untuk
    kumur-kumur di tenggorokan selama 2-3 menit, lalu dibuang.
    Lakukan 3 kali sehari.

Efek samping:
Senyawa alkaloid yang dikandung pada buah cukup berbahaya untuk sistem syarat. Yang umum terjadi adalah mual dan muntah (20-30%), sakit perut, pening dan nervous. Untuk mengurangi kejadian muntah, minumlah rebusan obat setelah dingin. Efek samping yang jarang terjadi adalah luka pada lambung yang disertai muntah darah.
Tanda-tanda kelebihan dosis: Banyak keluar air liur (qalivation), muntah, mengantuk dan seizure.
Pengobalan: Cuci lambung dengan larutan potassium permanganate dan injeksi atropine. Untuk mengurangi efek racunnya, pemakaian biji pinang sebaiknya yang telah dikeringkan, atau lebih baik lagi bila biji pinang kering direbus dahulu sebelum diminum. Kebiasaan mengunyah biji pinang, dapat meningkatkan kejadian kanker-mukosa pipi (buccal cancer).
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Biji: Pahit, pedas, hangat. Obat cacing (anthelmintic), peluruh kentut (antiflatulent), peluruh haid, peluruh kencing (diuretik), peluruh dahak, memperbaiki pencernaan, pengelat (astringen), pencahar (laksan). Daun: Penambah napsu makan. Sabut: Hangat, pahit. Melancarkan sirkulasi tenaga, peluruh kencing, pencahar. KANDUNGAN KIMIA: Biji mengandung 0,3-0,6% alkaloid, seperti Arekolin (C8 H13 NO2), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasine. Selain itu juga mengandung red tanin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid, dibandingkan biji yang telah diproses. Arekolin: Obat cacing dan berkhasiat sebagai penenang.

Minggu, 26 September 2010

subkelas apterygota

Anggota kelas insect disebut juga heksapoda atau lebih dikenal serangga. Merupakan kelas terbesar dalam filum anthropoda dan memiliki anggota kurang lebih 675.000 Spesies terbesar di semua penjuru dunia. Serangga tidak ada yang hidup di laut.
Ciri khas insekta :
1. Tubuh dapat dibedakan dengan jelas antara kepala, dada, dan perut. Pada kepala terdapat antenna , mulut dengan berbagai tipe serta mata faset dan mata oselus. Beberapa macam tipe mulut serangga :
a. menggigit dan menusuk
b. menghisap
c. menggigit dan menjilat
d. menggigit
pada bagian dada terdapat tiga pasang kaki. Sayap terletak pada segmen kedua dan ketiga. Pada bagian perut terdapat kurang lebih 11 segmen. Segmen terakhir bermodifikasi menjadi alat genital.
2. Alat pencernaan memanjang mulai dari mulut sampai anus. Pada mulut terdapat kelenjar ludah
3. System peredaran darah terbuka, jantung berbentuk gilik dan memiliki anterior aorta. Tidak memiliki pembuluh darah kapiler dan vena.
4. Bernapas dengan system trakea, yaitu berupa saluran bercabang-cabang sampai pada semua bagaian tubuh sebelah dalam. Oksigen yang masuk ke melalui spirakel/ostium dapat langsung masuk ke dalam jaringan.
5. Alat ekresi terdiri atas dua atau lebih pembuluh, disebut pembuluh Malpighi.
6. System saraf tangga tali, terdiri atas berupa ganglion pada tiap-tiap ruas. Pada kepala terdapat otak.
7. Indra penglihatan berupa mata majemuk yang tersusun atas omatidia dan mata tunggal yang disebut oselus. Pada antenna terdapat indra pembau yang disebut kemoreseptor.
8. Jenis kelamin terpisah, yaitu jantan dan betina. Pembuahan terjadi di dalam tubuh. Proses pertumbuhan dari telur sampai dewasa mengalami perubahan bentuk yang disebut metamorphosis. Sebagian besar serangga menglami metamorphosis. Berdasarkan metamorfosisnya, dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu :
a) Ametabola (tidak mengalami metamorfosis)
b) Hemimetebola (metamorphosis yang tidak sempurna)
c) Holometabola (metamorphosis sempurna)

Sungai Berdasarkan Asal Kejadiannya (Arah Jurus Dan Kemiringan Formasi)


      Pola Sungai Berdasarkan Arah Jurus dan Kemiringan (Asal Kejadiannya)
  1. Sungai konsekuen (K) adalah sungai yang alirannya mengikuti kemiringan batuan.
  2. Sungai subsekuen (S) adalah sungai yang arah alirannya sejajar dengan jurusa lapisan batuan.
  3. Sungai obsekuen (O) adalah sungai yang arah alirannya berlawanan dengan arah kemiringan lapisan batuan.
  4. Sungai resekuen (R) adalah sungai yang arah alirannya searah dengan sungai konsekuen dan alirannya masuk ke sungai subsekuen.
  5. Sungai insekuen (I) adalah sungai yang arah alirannya miring terhadap sungai konsekuen atau jurus batuan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShoutMix chat widget

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes